Success Story | Hikma Meirani | Pelajaran Perjalanan

Merantau ?

Tak pernah terlintas dibenak saya kata merantau apalagi menjadi pelakunya.

Sebagai anak perempuan tentunya takut berada jauh dari orang tua. Tetapi yang lebih menakutkan  adalah ketika mimpi saya tidak terwujud. Dan dipatahkan oleh orang orang terdekat.

Mimpi saya bisa menjadi Sarjana. Membantu nafkah ibu. Berpenghasilan sepuluh juta satu bulan.  Membeli  laptop, handphone, motor, mobil, rumah dengan uang sendiri.  Memiliki usaha yang bisa membantu orang sekitar.  Semua tercatat dan saya tempel dilemari kamar saya.

Tepatnya 6 tahun silam saya menyelesaikan bangku SMA. Seharusnya saya kuliah. Seperti kebanyakkan teman.  Tetapi Tuhan berkehendak lain.

Tahun pertama lepas kelulusan saya isi dengan bekerja dan belajar. Saya bertekad di 2015 harus kuliah dengan beasiswa tanpa perlu merepotkan orang tua.

Saya memang tidak punya tempat menyandarkan segala sesuatu yang berbau materi. Sejak SD kelas tiga sampai SMA bersekolah dibantu dengan beasiswa.

Terkadang Allah mengirimkan orang baik untuk saya. Untuk uang saku selain beasiswa, saya melakukan pekerjaan apa saja di luar dan dalam sekolah untuk dapat uang.

Saat SD sepulang sekolah bantu-bantu dipabrik kerupuk. Saat SMP jaga kantin sekolah kepunyaan guru. Pas  SMA menjual jawaban PR bahkan mengerjakan tugas teman-teman.

Tidak jarang harus bergadang dan menginap diwarnet langganan.  Karena saat itu belum punya laptop maupun printer .

Bukan karena tidak ingin menuntut orang tua saya sebagai anak . Bagi saya beliau bisa memenuhi gizi seimbang setiap hari itu sudah luar biasa.  Intinya  tidak ingin menambah bebannya sebagai single parent with double figure.

Tahun 2015 saya mengikuti empat seleksi beasiswa. Mulai dari SBPTN jalur bidik misi Universitas Sriwijaya Palembang, beasiswa diklat satu tahun Mandiri Entrepreneur Center (MEC) Surabaya, Beasiswa Paramadina University dan Beasiswa Yayasan Universitas Sjakyakirti Palembang.

Dari keempat beasiswa tersebut saya berhasil meraih ketiganya kecuali Paramadina karena yang terjaring hanya dua dari hampir ribuan orang.

Saya sangat bersyukur akan hal ini, tetapi berujung pada kebingungan. Ibu saya mendukung saya untuk mengambil bidikmisi saja, sementara saya lulus pada pilihan penjurusan kedua yaitu FKIP Fisika.

Sedang impian saya  pilihan pertama yaitu FK gigi. Setelah dihitung-hitung ternyata beasiswa yang saya dapatkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kuliah sampai selesai.

Saya memutuskan mencari tahu lebih dalam  perihal MEC Surabaya. Singkat cerita saya memutuskan untuk memilihnya,  walaupun ibu berat melepas saya .

Saya meyakinkan beliau selepas keluar dari MEC saya pasti bisa membuat beliau bahagia. Saya melupakan sejenak gelar sarjana karena saat itu ekonomi keluarga sedang tidak baik.

Saya sangat tertarik dengan MEC karena bisa menimbah ilmu dunia dan ahkerat. Saya ditempah untuk bermental lebih tangguh.

Punya  pendirian. Beriman lebih dalam pada sang pencipta. Ada satu hal yang paling buat saya terkejut ketika di MEC saat ada tantangan harus berjualan keliling. Saya paling anti kalau dulu harus diminta ibu saya berjualan disekolah. Lebih tepatnya gengsi.

Setelah saya coba. Baru saya sadar tidak ada yang salah. Its not bad! Rezeki datang dengan sendirinya asal kita ada kemauan untuk terus bergerak.

Analogi yang sangat sederhana tapi sangat bermanfaat pada pengaplikasian kehidupan. Terima kasih sedalam-dalamnya untuk semua pembelajaran yang  saya dapatkan dari MEC. Hingga hari ini masih saya rasakan manfaatnya baik dunia maupun akherat.

Mengenal teman dari berbagai daerah di Indonesia. Mengenal budaya mereka. Belajar memahami karakter mereka merupakan salah satu hal yang berharga.

Hampir satu tahun bersama teman-teman dari berbagai daerah menyisahkan memorial yang penuh makna. Setelah selesai pendidikan kembali teringat impian saya untuk menjadi sarjana dan janji saya membahagiakan ibu saya .

Sesuai claim yang diberikan MEC bahwa selepas pendidikan saya akan bekerja.  Hal ini benar adanya saya langsung bekerja menjadi Personal Asisten salah satu penulis buku dan motivator Surabaya.

Tetapi saya membuat kesalahan. Saya keluar tanpa permisi yang sangat tidak patut untuk dicontoh. Saya keluar hanya karena saya tidak ingin menjadi beban dan tidak ingin grow up dengan jalan ini.

Selain itu saya punya kewajiban harus membantu ekonomi keluarga saya. Mungkin banyak statement yang bermunculan,  tetapi saya tidak peduli sekalipun telinga saya menerima argumen yang menyayat hati. Tanpa peduli benar atau salah argumen yg mereka buat atau mereka dapatkan dari orang lain .

Saya pindah bekerja di salah satu perusahaan ekspedisi. Saya suka pekerjaannya. Hampir satu tahun saya bekerja disana.

Tetapi pendapatan saya tetap tidak bisa membantu orang tua saya. Saya ingin bekerja sampingan seperti les privat tetapi saat itu waktu dan sarana belum memenuhi.

Saya memutuskan resign karena tidak memiliki ruang untuk sekedar rehat dan memikirkan hal-hal lain diluar  jam kerja.

Saya sudah tahu resiko saya resign bahwa akan ada lagi argumen yang menggaung, tetap saya tidak peduli karena bagi saya mereka tidak akan tahu rasanya diposisi saya.

Saya juga pernah kerja coba – coba satu hari dengan teman, tapi saya tinggalkan karena akan membolongi kantong. Berdampak buruk pula pada ekonomi saya sebagai perantau. Bukan tidak bersyukur tetapi ada sisi lain yang orang lain tidak tahu.

Tidak butuh waktu lama saya mendapatkan pekerjaan kembali di salah satu pabrik di Surabaya. Dengan jam kantor yang normal dan tidak menyita waktu.

Success Story | Hikma Meirani

Bersamaan saat itu juga keluarga tersandung masalah. Bukan lagi kehidupan ibu saya yang harus saya pikirkan. Tetapi ada nafas enam orang yang harus saya sambung. Dan ada enam lambung yang harus saya tanggung.

Saya semakin terpuruk tetapi tidak boleh menyerah. Dengan keadaan ini, saya yakin ujian  Allah pasti bisa melewatinya terlewati.

Untuk memenuhi itu semua saya tidak pernah memikirkan hal lain. Mengubur semua impian dengan harapan bisa saya manggalinya dikemudian hari.

Saya fokus hanya mencari uang, uang dan uang. Hingga banyak teman yang mengira saya sudah pulang karena saya tidak pernah ada kabar.

Saya tidak sempat untuk hal lain kecuali berkerja. Sesekali  merefresh otak.  saya Saya bekerja mulai dari pukul 08.30 pagi sampai 16.30 dipabrik.

Memberi  les privat sesi pertama pukul 17.00 sampai 18.30. Sesi kedua di lokasi berbeda 19.00 sampai 20.30. Lanjutkan lagi 20.30 sampai 22.00 di lokasi berbeda.

Baru bisa beristirahat diatas jam 23.00 . Hal ini saya lakukan mulai dari awal 2016 hingga akhir 2017 . Tidak lain semua yang saya lakukan untuk keluarga.

Masalah keluarga saya tidak kunjung selesai. Mimpi terbengkalai hingga lamanya. Saya meminta petunjuk kepada Allah dosa besar apa yang saya perbuat.

Saya sadar mungkin ini bukan ujian tetapi ini balasan atas kesalahan yang tidak saya sadari. Hingga saya sadari dosa terbesar saya yaitu berpacaran yang jelas – jelas haram dan dilarang agama .

Akhirnya saya konsultasi dengan mentor saya di MEC dahulu. Bagaimana saya menyelesaikan masalah ini. Saya dibantu dengan segala semangat dan pembelajaran yang luar biasa dari mentor.

Mbak Ilmiah biasa panggil  mbak Iil. Beliau sangat berjasa bagi saya karena beliau penyemangat untuk berjalan pada kebenaran walaupun saya masih banyak kekurangan.

Saya menceritakan ini hanya untuk menjadi pembelajaran. Lama saya melepas hal ini. Butuh proses yang sedikit rumit dengan hati dan diri sendiri.

Saya memaksa diri saya dan otak saya karena masalah keluarga saya datang lagi, lagi dan lagi. Saya mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih baik.

Saat yang sama menjalin hubungan (pacaran). Saya tidak sadar bahwa berpacaran juga telah merenggut waktu, mimpi dan materi. Betapa bodohnya jika teringat akan hal itu.

Tahun 2017 ikut selesi CPNS. Hingga pada tahap tes hampir akhir yang harus diselesaikan di Jakarta. Di Jakarta tertimpa musibah.

Kehilangan tas yang berisi uang, data diri dan berkas CPNS. Semakin tertekan.  Tabungan habis untuk urus semuanya. Saya tidak bercerita dengan keluarga dan teman-teman. Hanya teman satu kos yang tahu.

Kehidupan keluarga saya tetap berjalan dan saya harus tetap membanting tulang dengan keterpurukan tanpa dukungan.

Hal gila yang paling  gila hampir saya lakukan adalah ingin menjual ginjal saya disalah satu situs penjualan ginjal di Afrika.

Saya sudah diambang batas waras sekitar Oktober 2017.  Hampir menjual diri. Hari itu saya sudah siap dengan dandanan yang sangat bertolak belakang.

Entah dari mana otak saya penuh dengan wajah ayah. Saya menangis terduduk didepan cermin lemari. Allah menyelamatkan saya pada hari itu.

Saya juga pernah ingin bunuh diri dan menyerah pada keadaan. Hingga ada salah satu orang yang whatsapp saya dan menanyakan ginjal saya.

Oh ya sudah terlanjut upload di situs mau jual ginjal.  Tetapi endingnya beliau menceritakan perjalanan hidupnya yang pahit.

Beliau memberi pesan kepada saya bacalah  “Lahaula walakuata illabillahil ‘aliyyil azhimi”. Beliau minta saya mendizirkannya selepas sholat 33 kali dan setiap selesai tahajud 100 kali.

InsyaAllah Allah menolongmu. Saya tidak tahu siapa orang tersebut karena beliau menghubungi saya sebelum handhone saya hilang. S aya menuruti dan mengamalkannya hingga sekarang.

Saya putuskan fokus  kembali mencari pekerjaan.  Sempat di terima di perusahaan retail kebutuhan rumah mulai dari furniture dan elektronik, Home Solution.

Success Story | Hikma Meirani

Gaji serta posisi yang ditawarkan sangat menarik. Saya tolak sebab ada aturan hari Raya tidak diijinkan pulang. Ibu saya tidak ingin hari raya tanpa saya.

Allah berbaik hati kepada saya, November 2017 saya diterima disalah satu perusahaan yang bergerak di bidang retail furniture.  Dengan gaji yang lebih dari cukup. Pekerjaan yang saya sukai  menjadi customer service. Sampai sekarang pekerjaan itu saya tekuni.

Perlahan tapi pasti saya memutuskan tidak pacaran . Cukup sudah saya menghianati Allah. Saya tidak ingin Allah murka .

Allah selalu membantu dalam setiap kesulitan yang saya hadapi. Entah ini kebetulan atau bagaimana? Setelah  kembali kejalan yang benar rezeki mengalir dengan Lancar.

Masalah keluarga satu persatu terpecahkan. Apa yang di inginkan satu persatu tercapai. Mulai dari ingin menjadi sarjana. Sekarang sedang menempuh studi S1 Ilmu Komunikasi. Beli  Hp , laptop dan motor dari jerih payah sendiri.

Bisa merubah keadaan kelam dalam keluarga tanpa perlu ibu berfikir lagi besok makan apa? Bayar listrik dan PDAM dari mana? Empat orang cucunya bisa bersekolah atau tidak.

Semua bisa saya penuhi dengan kerja keras. Beliau tidak perlu memikirkan semua itu selagi saya masih ada disini. Beliau tidak perlu takut lagi rumah kebanjiran jika hujan lebat.  Saya ceritakan perjalanan hidup ini agar bisa ambil pelajaran.

Allah itu maha baik kepada makhluknya.  Jika kita terus berusaha, sabar dan mengikuti perintah-Nya. Saya membuat ini sampai menitikkan air mata bagaimana perihnya keadaan, pasti ada kemudahan dibaliknya.

Seperti yang sudah disampaikan Allah dalam surah Al-Insyiroh. Tidak saya pungkiri terkadang masih iri dengan teman-teman yang jauh diatas saya.

Tetapi saya selalu menenangkan diri dengan cara bersabar.  Allah pasti kabulin satu persatu.

Bukan hanya faktor menjadi tulang punggung dan punya mimpi membuat saya bertahan hingga saat ini. Tetapi dahulu saya pernah dikecilkan oleh seseorang dengan kata – kata :

“Kamu itu gak punya bapak, sudah jangan aneh-aneh mau kuliahla , mau ini, mau itu, kerja aja. Kasian mamamu.”

Kata-kata itu selalu terngiang ini dalam benak saya. KEJAM banget kata-kata itu! Akankah saya jahat dengan orang yang mengatakan itu? Tentu tidak.

Saya justru punya semangat ingin membuktikan bahwa bisa meraih apapun mimpi-mimpi saya. Andai  dia datang meminta bantuan jika bisa beliau saya bantu.

Begitu pula teman- teman yang datang disaat saya suka dan meninggalkan ketika duka. Tetap saya bantu jika memerlukan.

Saya ingat ayah dan ibu saya selalu mengajarkan. Apa yang kita tuai itu yang kita tanam . Diam dalam kejahatan yang dilempar orang lain jauh lebih baik. Cukup bentangkan sajadah dan doakan ampuni dosa mereka .

Semoga kisah perjalanan saya memberi hikmah kebaikan bagi yang membacanya. Teman – teman bisa belajar beberapa hal.

Yang buruk jangan di tiru yang baik-baik saja di ambil. Hal yang bisa teman-teman jadikan pembelajaran , yaitu :

  1. Patuhi Allah maka apa yang kamu inginkan Allah pasti akan memberimu sesuai kebutuhan.
  2. Tidak perlu ambil pusing atas apa argumen orang lain. Rumor negatif yang sampai ketelingamu jadikan booster dalam perjuangan.
  3. Kebahagian orang tua adalah nomor satu. Ridho orang tua ridho Allah.
  4. Jangan mudah menyerah dan putus asa dalam kondisi sesulit apapun.  Allah selalu punya kurir-kurir kebaikan yang akan menolongmu .
  5. Jangan jadi bucin! Menua usiamu belum pasti bersama dia. Jjodohmu sudah digariskan. Ingatlah bahwa menua RAGA itu TIDAK PASTI, sedangkan MATINYA RAGA itu PASTI .
  6. Jangan egosi atas kehidupanmu sebagai anak. Jangan paksa orang tuamu berpikir keras. Jangan buat orang tuamu membanting tulang. Jangan sampai kebahagiannya terkuras atas kebagiaanmu. Jangan biarkan mereka meretas pilu, berkeringat dan berkorban yang diluar ambang batas untuk kita yang terkadang beregois tanpa waras .
  7. Jangan pernah meremehkan orang lain, kita tidak pernah tahu siapa yang akan membantu kita disaat kita susah.

Terima kasih sedalam-dalamnya untuk pak Yanto dan MEC sudah mengizinkan saya untuk menulis cerita ini . Semoga bermanfaat dan menjadi pembelajaran bagi kita semua. Aamiin.

–      HmR-

Surabaya , 20 Mei 2020

 

 

 

Hikma Meirani

Tinggalkan komentar