Membangun Sosok Idola Sepanjang Sejarah umat Manusia

Sosok Idola Umat Islam – Mustahil bagi siapapun yang mempelajari kehidupan dan karakter Nabi Muhammad SAW, hanya mempunyai perasaan kagum dan hormat saja terhadap nabi yang mulia itu.

Ia akan melampaui-nya sehingga meyakini bahwa beliau adalah salah seorang nabi terbesar (dan teragung) dari sang pencipta.”

Demikian Annie Besant menulis dalam The Life and Teaching of Muhammad. Dalam konteks inilah al-Qur’an menyatakan: “Sesungguhnya Kami pasti akan meninggikan (sebutan) nama bagimu”. (QS. al-Insyirah: 4).

Iya, nama di tengah para pengagumnya yang menjadikannya sebagai idola (terang-terangan atau tidak) dan sebutan (namanya) tertinggi di tengah kehidupan umatnya yang mencintainya sepanjang sejarah hidup dan kemanusiaan.

Para pakar bersepakat dengan menggunakan berbagai tolok ukur untuk mengakui beliau sebagai manusia teragung yang pernah dikenal sepanjang sejarah kemanusiaan, karena itu patut dan sangat patut untuk tetap dijadikan sebagai idola oleh manusia di dunia.

Tolok ukur yang dipakai adalah kepahlawanan, hasil karya teragung, keberanian moral, metode pembuktian (kebenaran) ajaran, serta paling berpengaruh dalam sejarah dunia; seperti yang ditulis oleh Michael Hart dalam “Seratus Tokoh Dunia Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah Dunia”.

Mengapa manusia di zaman ini masih memiliki rasa skeptis untuk menjadikan manusia teragung menjadi suri tauladan dalam hidup atau menjadikannya sebagai idola untuk mengambil pelajaran dari dirinya untuk bisa selamat dunia dan akhiratnya.

Al-Qur’an mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad SAW. memiliki akhlak yang sangat agung. Bahkan dapat dikatakan konsideran pengangkatan beliau sebagai nabi adalah keluhuran budi pekertinya.

Hal ini difahami dari wahyu yang ketiga yang antara lain menyatakan bahwa: “Sesungguhnya Engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung”. (QS. al-Qalam: 4) kata “di atas” tentu mempunyai makna yang sangat dalam, melebihi kata lain misalnya, pada tahap/dalam keadaan akhlak mulia.

Beliau adalah manusia seperti manusia lainnya dalam naluri, fungsi fisik, dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat dan keagungannya, karena beliau mendapat bimbingan Tuhan dan kedudukan istimewa di sisi-Nya, sedangkan yang lain tidak demikian.

Dalam bahasa tafsir al-Qur’an, “Yang sama dengan manusia lain adalah Basyariyah-nya dan bukan pada Insaniyah”, perhatikan bunyi firman Allah (QS. al-Kahfi: 110) Basyarum mitslukum bukan Insanu mitslukum.

Atas dasar sifat-sifat yang agung dan menyeluruh itu, maka beliau patut menjadi idola bagi seluruh umat manusia. Mahmud Abbas al-‘Aqqad, seorang pakar muslim kontemporer menguraikan bahwa manusia dapat diklasifikasi ke dalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerja keras, dan yang tekun beribadah.

Sosok Idola Umat Islam

Sejarah hidup Nabi Muhammad membuktikan bahwa beliau menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut.

Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap orang yang bersikap objektif.

Karena itu pula seorang muslim yang kagum berganda kepada beliau, sekali pada saat memandangnya melalui kacamata ilmu dan kemanusiaan, dan kedua kali pada saat memandangnya dengan kacamata iman dan agama.

Salah satu fungsi yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad antara lain sebagai syahiid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan) yang pada akhirnya bermuara pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta.

Inilah alasan lain secara klasik mengapa beliau pantas menjadi panutan, uswah, dan idola bagi umat masa kini dan akan datang.

Dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern digambarkan bahwa Nabi Muhammad merupakan seorang pembaru agama dan sosial yang telah membangkitkan salah satu peradaban besar dunia.

Dari perspektif historis modern, Nabi Muhammad adalah pendiri Islam. Dari perspektif agama Islam, beliau adalah Rasul utusan Allah, yang menjadi “pemberi peringatan”, mula-mula bagi bangsa Arab, dan kemudian bagi seluruh umat manusia.

Merekonstruksi kehidupan “Muhammad Historis” merupakan saalah satu topic yang paling sulit yang memancing perdebatan dalam kajian modern tentang Islam.

Sumber paling berharga untuk penulisan biografi modern mengenai Nabi Muhammad adalah al-Qur’an, kitab suci Islam yang berisi wahyu-wahyu yang dia (Nabi) sampaikan selama kurang lebih dua dekade terakhir hayatnya.

Al-Qur’an selalu Nabi Muhammad tapi bukan dalam urutan kronologis. Nabi Muhammad dalam al-Qur’an adalah sosok nyata yang memiliki rasa takut, rasa cemas, rasa harap, dan memiliki kekuatan yang digambarkan dengan jelas bagi pembaca yang kritis.

Inilah gambaran sosok yang harus menjadi qudwah untuk umat manusia secara umum dan umat Islam secara khusus.

Mengapa Nabi Muhammad pantas kita jadikan idola dan mencintainya setelah kita mencintai Allah SWT. Rasulullah Sangat Mencintai Umatnya.

Alasan yang pertama yang membuat kita mencintai Nabi Muhammad adalah karena beliau sangat menyayangi kita. Beliau mencintai kita tanpa syarat.

Beliau memikirkan betapa tidak inginnya beliau melihat kita umatnya mendapatkan siksa dunia akhirat. Kisah Hidupnya yang Luar Biasa.

Kesedihan demi kesedihan yang dialami oleh Nabi Muhammad menjadikan kisah ini sangat menarik. Dengan cerita hidup yang sangat luar biasa ini, kita wajib belajar dari Rasul yang tabah dan sabar bahkan harus kehilangan orang orang yang disayanginya sebelum beliau dewasa.

Kesabaran yang Menakjubkan. Rasulullah terkenal sebagai manusia paling sabar yang ada di muka bumi ini. Meskipun cacian, hinaan bahkan perilaku yang sangat buruk dilakukan orang orang terhadapnya, Rasul tidak pernah sekalipun dendam kepada mereka.

Rasulullah adalah seorang Pekerja Keras. Kita harus menjadikan Nabi Muhammad seorang idola adalah karena beliau merupakan pekerja keras.

Beliau adalah pribadi teladan yang kata kata dan perbuatannya sejalan. Beliau sudah melakukan bisnis semenjak remaja ketika ikut dengan pamannya.

Sungguh teladan inilah yang harus kita contoh menjalani hidup dengan kerja keras. Hidup itu berubah adalah sebuah keniscayaan, tapi kalau tidak berarti kita salah dalam menterjemahkan tekstual literal Islam dalam membangun hidup dan kehidupan. Wallahu a’lam

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS. al-Ahzab: 21)

“Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad
dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’an).”
(QS. an-Nisa’: 174)

Sumber : Majalah Yatim Mandiri Edisi Februari 2020

Oleh : Drs. H. Usman Daud, MA (Konsultan Hukum Islam dan Keluarga)

Tinggalkan komentar