(Kata Mereka ) Pengalaman Di Mec | Muhammad Alief

Assalamu’alaikum semua, senang sekali ini kali ini saya berkesempatan memperkenalkan diri saya kepada orang-orang hebat seperti anda semua. Jadi, nama saya Muhammad Alief Masyayid saya berasal dari Lamongan soto city.

Saya tinggal di rumah yang sederhana menghadap ke selatan dengan gerobak kayu lapuk terparkir di teras rumah. Gerobak ?,  ya saya lahir dari rahim perempuan hebat pedagang pecel lele khas Lamongan.

Saya membantu ibu saya berjualan pecel lele mulai dari menginjak SMP sampai selesai SMA. Jadi masalah ulek-mengulek sambal mulai dari yang mentah dan matang, yang sedang hingga yang pedas kemampuan saya bisa diperhitungkan.

Sebelum Mengenal MEC

kata mereka pengalaman di mec alif

Sebelum saya menceritakan pengalaman pribadi saya di MEC, izinkan saya bercerita sedikit tentang masa lalu. Dulu saya suka sekali dengan dunia otomotif, apalagi untuk motor rx king. Dengan motor ini sering ikut ketika ada event-event ulang tahun club motor.

Meski sebagian orang memandang negatif terhadap club motor, tapi bagi saya club motor solidaritasnya tinggi. Tapi bener sih ada sisi negatifnya juga kebut-kebutan di jalan, melanggar lalu lintas itu dulu sudah biasa bagi saya.

Sekarang semakin dewasa saya semakin sadar tidak bisa hidup seperti ini terus. Waktunya mencari ilmu dan taat beribadah untuk bekal masa depan kelak. Karena jadi imam tidak cukup dengan wajah tampan dan mapan tapi yang terpenting memiliki iman.

Pengalaman Pribadi Di Mandiri Entreprenur Center (Surabaya)

kata mereka pengalaman di mec alif

Mungkin banyak dari kalian yang tidak mengetahui Mandiri Entrepreneur Center (MEC). MEC adalah lembaga pendidikan setara D-1 yang merupakan program pendidikan dari Yatim Mandiri. Di sini mahasiswanya berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Di MEC saya mempunyai banyak pengalaman berkesan yang tidak akan terlupakan meski saya sudah mempunyai anak-anak yang sholeh-sholehah hehe. Saya belajar tentang solidaritas, kebersamaan dari awalnya yang tidak kenal satu sama lain.Berikut saya curahkan pengalaman saya di kampus kemandirian MEC tercinta ini.

1. Pertama Kali Melihat Kampus MEC

kata mereka pengalaman di mec alif

Sebelum bisa masuk MEC, para calon mahasiswa menjalani tes di daerahnya masing-masing, saya sendiri mengikuti tes yang dilaksanakan di Surabaya. Saya berangkat ke Surabaya bersama paman mengandalkan alamat yang ada di Google Map.

Sesampainya saya di alamat Jl. Jambangan No 70 saya melihat bangunan sederhana, kemudian saya berpikir tesnya dilakasanakn di kantor cabangnya. Kemudian saya menjalani tes tulis dan wawancara, ada dua prodi yang saya pilih yaitu teknologi informasi dan kuliner.

Setelah saya dinyatakan lulus, tanggal 1 Juli 2019 saya berangkat dari rumah ke alamat tempat tes kemarin. Sesampainya di tempat saya berjalan sebentar untuk melihat sekeliling. Lalu saya sedikit heran ketika melihat papan nama kelas di atas pintu kantor cabangnya.

Hal ini membuat saya penasaran dan menanyakan kepada calon mahasiswa lainya. Karena tidak kenal dan tidak tahu dari mana asalnya saya berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Yaa tau sendiri kan kalau orang Jawa pakai bahasa Indonesia, medok.

Kemudian dia  mengatakan sambil sedikit tersenyum, “ya ini kampusnya!”. Ternyata selain saya banyak calon mahasiswa yang lain juga tidak tahu. Tapi itu tidak masalah bagi saya karena sangat banyak orang sukses yang lahir dari tempat sederhana.

2. Entrepreneur (Membangun Jiwa Pebisnis)

kata mereka pengalaman di mec alif

Inilah salah satu program MEC yang tidak ada di lembaga pendidikan lainya. Mendengar kata entrepreneur tentunya tidak akan jau dari dunia bisnis. Ya kami di sini memang di didik menjadi pengusaha yang sukses.

Dalam program ini kita tidak dibekali dengan ilmu berjualan melainkan langsung praktek. Kami menawarkan kerja sama dengan setiap pedangang yang kami jumpai untuk membantu menjualkan produk mereka.

Saya adalah orang yang pemalu, jadi ketika saya membawa dagangan sangat jarang menawarkan kepada orang (kalau ada yang manggil ya layanin kalau tidak ya jalan terus). Sehingga hasil yang saya dapatkanpun kurang dibanding temen yang lain.

Dari sini saya belajar bahwa menjadi penngusaha sukses tidak bisa hanya diam saja tapi saya harus berani dan pantang menyerah untuk menjadi pengusaha sukses, dan berangkat haji se-keluarga, Aamiin.

3. Akademik

kata mereka pengalaman di mec alif

Dalam akademik saya masuk jurusan teknologi informasi, ini merupakan sesuatu hal yang baru bagi saya. Karena saya tidak mempunyai pengalaman belajar komputer. Tapi kenapa tes dulu memilih jurusan teknologi? ya karena suka saja, itulah yang menjadi modal saya hehe.

Hampir semua teman jurusan TI merupakan lulusan SMK teknik komputer dan jaringan. Hal inilah yang saya syukuri karena selain saya belajar dari dosen nantinya, saya juga dapat bertanya kepada mereka yang tidak saya ketahui.

Semua materi disini masih baru buat saya. Tapi, entah kenapa saya suka materi yang menurut kebanyakan orang itu susah yaitu conding/programer. Saya mempelajari berbagai bahasa pemograman HTML, CSS, dan PHP.

4. Tilawati dan Diniyah

kata mereka pengalaman di mec alif

Mahasiswa MEC selain mandiri soal finansial, tapi juga harus mandiri ibadah. Untuk meningkatkan pengetahuan agama MEC mempunyai program mengaji dengan metode tilawati yang dilaksanakan senin – jum’at ba’da sholat maghrib.

Program ini dilakasanakan dalam rangka mencetak mahasiswa menjadi guru ngaji metode tilawati sehingga bisa bermanfaat di masyarakat. Kemudian ba’da sholat isya’ dilanjut dengan materi diniyah seperti fiqih taharah, fiqih mu’amalah, akhlak, aqidah yang di dampinigi oleh ustadz-ustadzah.

5. Hafalan Jus 30

Sebagai umat muslim tentunya kita harus mencitai serta mengamalkan isi dari Al-qur’an. Kami mahasiswa MEC setiap ba’da sholat shubuh setoran hafalan kepada ustadz-ustadzah mentor kamar masing-masing.

Kami menghafal jus 30 sedikit demi sedikit. Meski kebanyakan yang kita hafal surat-surat yang pendek. Namun, dengan berhasilnya kami mengahafal jus 30 diharapkan dapat menjadi pemancing jus-jus yang lain.

6. Belajar Kultum dan Khutbah

kata mereka pengalaman di mec alif

Setiap ba’da sholat maghrib, isya’, dan shubuh, salah satu mahasiswa bertugas sesuai jadwal untuk memberikan kultum singkat 5 – 7 menit kepada jama’ah. Tema yang dibawakan bebas asal ada pelajarannya dan bermanfaat.

Hal ini bertujuan untuk melatih para mahasiswa untuk berani tampil dan berbicara di depan umum. Karena berbicara umum bukan merupakan suatu hal yang mudah terlebih bagi saya yang pemalu. Tapi dengan adanya program ini diharapkan mahasiswa siap dan mampu ketika diluar sana karena sudah terbiasa saat di MEC.

7. Basic Learning Program

kata mereka pengalaman di mec alif

Kegiatan ini dilaksanakan setelah ujian semester 1 selesai. Para mahasiswa di ajak belajar di alam tepatnya di coban rondo Malang, Jawa Timur. Selama tiga hari dua malam mahasiswa yang sudah dibentuk kelompok akan berproses bersama.

Ada 7 indikator yang di tanamkan pada setiap individu selama kegiatan berlangsung, diantaranya tumbuhnya jiwa pantang menyerah, selalu bersyukur kepada Allah SWT, dan rasa peduli terhadap sesama.

8. Lomba pada hari-hari khusus

kata mereka pengalaman di mec alif

Bagi mahasiswa MEC tidak ada yang namanya tanggal merah. Kami mengisinya dengan berbagai kegiatan lomba berhadiah sabun cuci/mandi, snack, odol dan lainya. Mungkin tidak seberapa tapi bagi kami yang hidup di asrama is very valuable.

Kegiatan yang dilombakan diantaranya ada lomba debat, khutbah jum’at untuk yang laki-laki dan lomba-lomba dalam peringatan agustusan. Hal ini dalam rangka mempererat tali silaturahim antar mahasiswa.

9. Wisuda Tilawati

kata mereka pengalaman di mec alif

Ini adalah yang paling berkesan buat saya, karena saya datang ke sini memang dari awal ingin mengajar mengaji. Semoga dengan lulusnya saya sebagai wisudawan tilawati dapat memudahkan saya menjadi guru ngaji.

Sayangnya hanya sebagaian saja teman saya yang lulus. Tapi meski belum lulus teman-teman saya disini menunjukan perkembangan yang luar biasa, dari awal masuk di sini tidak mengerti huruf hijaiyah hingga hafal jus 30, semangatny dalam belajar yang kadang membuat saya iri.

Nah itulah cerita pengalaman selama saya berproses di MEC. Banyak ilmu yang saya dapatkan disana. Terlebih lagi suasana asrama pada waktu sholat tahajjud pasti akan membuat saya rindu suatu saat nanti.

Saya Muhammad Alief Masyayid, mengucapkan banyak terima kasih kepada ustadz-ustadzah yang telah membimbing saya. Semoga saya bisa terus mengamalkan ilmu-ilmu yang saya dapat di MEC sehingga bisa bermanfaat untuk sesama. Sekian! Assalamu’alaikum WR WB.

Tinggalkan komentar