Menata Niat Untuk Meraih Kebaikan Dunia dan Akhirat

Menata Niat – Segala sesuatu tergantung dengan niat. Niat baik tentunya baik juga yang akan di dapatkan begitupun selanjutnya. Niat yang buruk juga buruk pula yang akan di dapatkan.

Didalam islam niat merupakan salah satu hal yang tidak ketinggalan. tidak hanya dalam ibadah, dalam hal lainpun juga akan dilihat niatnya.

Menata Niat

menata niat

Niat adalah kemantapan hati yang didukung oleh ungkapan lesan dan dibuktikan dengan perbuatan. Menata Niat maksudnya, dalam beribadah harus melururuskan tujuan ibadah, yaitu:

  1. Mengharapkan ridho dari Allah SWT.
  2. Untuk bertaubat memohon ampun kepada Allah SWT.
  3. Untuk menjalankan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT.
  4. Untuk mendapatkan petunjuk dan kemudahan dari Allah dalam setiap ikhtiar dan usaha pekerjaan kita.
  5. Supaya ibadah kita diterima dan mendapatkan pahala di akhirat kelak.

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib r.a. dari Rasulullah SAW dimana beliau menceritakan tentang apa yang diterimanya dari Allah SWT, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT mencatat kebaikan kebaikan dan kejahatan-kejahatan, kemudian dijelaskannya semua itu. Barang siapa yang bermaksud untuk mengerjakan kebaikan tetapi tidak melaksanakannya, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan. Dan barangsiapa yang bermaksud untuk mengerjakan kebaikan kemudian dia melaksanakannya maka Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan, sampai lipat tujuh ratus kali kebaikan, bahkan sampai berlipat ganda yang tak terhitung banyaknya. Barang siapa yang bermaksud untuk berbuat kejahatan tetapi dia tidak melaksanakannya, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan. Dan barang siapa yang bermaksud berbuat kejahatan, kemudian dia mengerjakannya maka Allah mencatat baginya satu kejahatan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Niat sering disamakan sebagai aktivitas pengucapan lisan. Ketika seseorang berniat, maka ia dituntut melafalkan niat itu di lidahnya.

Padahal, pengertian niat yang sesungguhnya adalah murni aktivitas hati, bukan lisan. Niat adalah bahasa hati yang tidak bisa diwakilkan dengan ucapan lisan.

Jika pun lisan mengucapkan, maka itu hanya berfungsi sebagai pengingat dan penguat saja. Persepsi atau anggapan yang keliru ini  pada akhirnya menjadikan niat sering terlupakan dan terabaikan dalam kebanyakan aktivitas keseharian kita.

Betapa sering kita melakukan amal atau pekerjaan, dan betapa seringpula kita melupakan dan melalaikan niat didalamnya.

Kenapa Harus Menata Niat?

menata niat

Sebab dalam diri manusia terdapat nafsu. Sedangkan sifat nafsu adalah cenderung membawa, mendorong dan menjerumuskan kepada kejelekan.

Terhadap niatan dalam beribadah, tentu nafsu ingin mempengaruhinya, yakni dengan menampilkan diri bahwa ibadah itu untuk mendapatkan pujian dari orang tua, teman-teman, dan lain sebagainya.

Maksudnya, niatan ibadah tidak murni untuk Allah SWT. Akibatnya ibadah yang niatnya telah terkotori hawa nafsu, tidak akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Sebaliknya hanya capek dan lelah saja. Dia akan kecewa dan menyesal nantinya, ketika semua amal ibadahnya ketika hidup di dunia ini dihisab (dihitung) dan ditimbang oleh Allah, dan pahala dari amal ibadahnya dinilai nol belaka.

Mengingat ketika tiba hari perhitungan amal (hari akhirat), maka tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia untuk beramal dan berbuat baik, semuanya sudah terlambat.

Maka hendaknya, kita mampu mengerti, memahami dan menyadari hal ini. Agar kita tidak menyia-nyiakan kesempatan (umur, kesehatan, kesempatan, kekuatan, kemudahan, dan lainnya) yang diberikan oleh Allah kepada kita ini.

Jika saja kita pandai mengelola dan menghimpun niat yang baik, tentu aktivitas itu akan menjadi amal yang membuahkan pahala berlimpah.

Niat adalah jangtung amal, pilarnya amal, dan ruhnya amal. Sah tidaknya suatu amal, benar tidaknya suatu amal sangat ditentukan oleh niat

diawalnya. Berpahala atau tidaknya suatu amal juga digantungkan pada niat dihati. Dan sedikit atau banyaknya pahala, pula disesuaikan dengan niat yang menyertainya.

Tidak sedikit amal yang kelihatannya kecil dan ringan tapi karena niat, ia menjadi amal yang besar dan berat timbangannya disisi Allah.

Dari sahabat Al-Qomah bin Waqqosh al-La’its mendengar sahabat Umar ra berkata di atas mimbar, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sahnya semua amal itu harus disertai niat. Dan segala sesuatu itu tergantung dari apa yang diniatkannya. Maka barangsiapa yang berhijrah karena hendak mengharapkan dunia atau seorang perempuan untuk dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diharapkannya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Niat adalah amal pribadi yang tidak terkait dunia luar. Urusan niat adalah urusan pribadi, yang tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain.

Berbeda dengan amal yang selalu berhubungan dan bersinggungan dengan dunia luar, terutama manusia. Sebab niat tempatnya di hati, yang tidak terpengaruh oleh pandangan manusia.

inilah yang menjadikan niat baik selalu membuahkan pahala, sedang perbuatan baik belum tentu. Maka, menjadi wajib bagi umat muslim untuk mengelola dan menata niat sebelum beramal, agar setiap amal yang dilakukan membuahkan pahala yang berlimpah.

Siapa saja yang tidak pernah memerhatikan niat yang ada di dalam hatinya, maka siap-siaplah untuk membuang-buang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti.

Mari gunakan semua karunia itu untuk mengabdikan diri kepada Allah, untuk beribadah kepada Allah. Ingat ibadah bukan hanya salat, puasa, zakat, baca Al-Quran atau haji saja, meskipun itu adalah ibadah yang pokok.

Tetapi ibadah itu luas sekali cakupannya. Semua yang kelihatannya aktivitas duniawi, pekerjaan kita sehari-hari ini, mencari nafkah sehari-hari, adalah bernilai ibadah, jika tidak bertentangan dengan syariat Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dan semua amal dan pekerjaan itu akan kita temui pahalanya jika hal itu kita niatkan untuk mencari keridhoan dari Allah SWT.(*)

Tinggalkan komentar