KISAH INSPIRASI

Kisah Inspiratif – Hallo Sahabat yatim, nah kali ini admin akan menceritakan kisah inspiratif yang sangat bisa membuat kita sadar akan kerasnya perjuangan yang harus di lalui untuk menjadi seorang yang luar biasa.

Langsuh aja deh ya simak pembahasan berikut.

1. KULIAH DENGAN KETERBATASAN BIAYA

kisah inspiratif

Terlahir dari keluarga petani yang memiliki mimpi-mimpi besar untuk meraih kesuksesan.

Cita-cita awal sebelum lulus dari STM saya kepingin masuk ke TNI Angkatan Udara. Selama sekolah di STM fisik sudah dipersiapkan.

Namun menginjak berakhirnya ujian nasional, ibu tidak memberikan restu kepada saya untuk menjadi seorang TNI.

Kemudian saya mencoba untuk ikut tes seleksi penerimaan keryawan perusahaan yang diselenggarakan sekolah. Lagi-lagi ibu tidak merestuinya saya lagi.

Ternyata saya diminta untuk kuliah tapi dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Permintaan ibu saya, jika kuliah disarankan di wilayah Jawa Tengah, dikarekan banyak family di wilayah tersebut.

Harapan orang tua saya nantinya bisa menjadi seorang guru.

Ternyata banyak cibiran sana sini datang dari tetangga dengan logat kental Bahasa Jawanya “anak e wong tani nyapo ndadak kuliah barang, arep dadi opo? Mendingan kerjo neng sawah ngewangi wong tuo” (anaknya petani kenapa harus kuliah, mau jadi apa? Lebih baik membantu orang tua kerja disawah.

Namun keinginan orang tua, saya abaikan saya lebih memilih ke kota Surabaya untuk menempuh kuliahnya. Saya mencoba untuk ikut tes masuk PTN waktu itu saya mengambil di ITS dengan jurusan Teknik Elektro dan Teknik Perkapalan, namun tak lolos.

Akhirnya saya pilih PTS di Surabaya di wilayah Jl. Semolowaru ambil jurusan Teknik Elektro. Pada awal ke Surabaya alhamdulillah saya bisa tinggal sementara di rumah dosen agama tempat saya kuliah. Karena bilau masih saudara dari tempat saya mengabdi waktu di STM.

Perkuliahan semester pertama akan dimulai, dengan keterbatasan uang yang saya bawa, setiap hari keliling mencari tempat kos yang sesuai dengan kondisi keuangan saya. Alhamdulillah saya mendapatkannya dengan harga per bulannya waktu itu Rp. 45.000,- lokasinya tak terlalu jauh dengan kampus.

Untuk jam makan tiap harinya sampai saya jadwal karena sehari uangnya mampu untuk beli makan 2 kali. Pagi sekitar jam 10 malam sekitar habis magrib. Terus untuk makan tiap hari keliling mencari warung yang nasinya banyak, enak murah, disediakan minum air putih bisa dipastikan jadi langganan.

Menjelang semester 2 ada informasi dari pemilik kos bahwa 2 bulan lagi biaya kos akan dinaikkan menjadi Rp. 50.000,- . pokoknya setiap pulang dari kampus jalan kaki menelusuri gang-gang untuk mencari kos-kosan yang murah sesuai dengan kondisi uang.

Dikarenakan orang tua tidak bisa tiap bulan mengirimkan uang.

Pada akhirnya alhamdulillah ada teman kuliah saya yang menawarkan tempat kos di rumah tantenya. Langsung saya menuju kesana menanyakan biaya perbulannya.

Biaya perbulan waktu itu kalau tidak salah Rp. 70.000,- dapat dua kali makan dan tiap pagi harus mengisi bak mandi pakai jerigen dari tandon tetangga sebelah jarak sekitar 100 m.

Alhamdulillah ditempat kos yang baru tempatnya dekat dengan masjid sehingga saya bisa ikut kegiatan dimasjid. Lama-lama banyak dikenal warga sekitar dan pemuda-pemudanya.

Setiap kegiatan masjid dan warga selalu diajak sama pak kos. Lumayan jika ada hajatan bisa mengurangi pengeluaran.

Selain aktif dilingkungan kos, saya juga aktif mengikuti unit kegiatan kemahasiswaan. Lumayan dieven-even kampus bisa mendapatkan pengalaman dan kadang mendapatkan uang dari sisa kegiatan.

Saya juga sempat mempelopori para pemuda dilingkungan kos untuk mengaktifkan kembali karang taruna.
Suatu ketika saya silaturohim ke dosen agama yang pertama kali saya datang ke Surabaya.

Saya dikenalkan tetangganya orang dari Blitar, yang bekerja di Hotel ternama Surabaya. Dari perkenalan tersebut akhirnya saya ditawari untuk menjualkan kaos. Kebetulan waktu itu kaosnya merek Dagadu dari Jogja.

Tawaran tersebut akhirnya saya terima. Pertama kali diberi kaos 10 potong yang lengan Panjang 3 potong, lengan pendek 7 potong. Harga yang diberikan untuk disetorkan ke pemilik yang Panjang Rp. 25.000,- , yang pendek Rp. 20.000.-. untuk menjualnya terserah katanya. Yang penting setornya sesuai yang telah dibarikan.

Karena belum punya pengalaman dalam hal jual menjual, di awal mau menawarkan ke teman kuliah maju mundur, kira-kira ada yang mau ndak ya. Pada akhirnya saya optimis pasti ada yang mau. Ternyata lumayan bisa habis kaosnya. Dan alhamdulillah mendapatkan untung cukup lumayanlah bisa ditabung.

Setelah saya setorkan hasil penjualan, saya dikasih kaos lebih banyak lagi. Hingga pada saatnya muncul dalam pikiran saya, bisa nggak ya untuk jualan kaos Dagadunya kulakan sendiri. Suatu ketika saya mencoba mencari informasi tentang lokasi grosir kaos Dagadu di Jogja. Al hasil alhamdulillah mendapatkan alamatnya.

Dari hasil penjualan alhamdulillah waktu itu saya bisa punya tabungan sebesar Rp. 250.000,- . di tahun 1999 punya uang segitu lumayan menurut saya. Dengan modal Rp. 250.000,- saya beranikan diri kulakan sendiri ke Jogja, meskipun belum pernah dan tahu kota Jogja.

Setelah ketemu tempat grosir kaos Dagadu, saya langsung tanya-tanya harga grosir kaosnya. Dan alangkah kagetnya saya, ternyata harganya jauh lebih murah dibanding harga yang saya dapatkan di Surabaya. Harga kaos lengan pendek waktu itu dikasih harga Rp. 15.000,- dan yang lengan Panjang dikasih harga Rp. 17.000,-.Menurut saya waooo, begitu tahu selisih harganya.

Saya bisa menjual dengan harga yang biasanya saya jual. Selain itu saya juga mendapatkan ilmu untuk mengetahui bahwa kaos itu asli ataukah tiruan. Ciri-ciri kaos Dagadu asli tidak ada jahitan dibagian samping kanan kiri dibadan.

Setelah mendapatkan tempat grosir akhirnya saya jadikan langganan. Alhamdulillah dagangan saya setiap ambil dari joga selalu habis, sampai-sampai sebulan bisa 2 kali ke Jogja. Setiap mau ke Jogja saya sempatkan terlebih dahulu silaturrohmi ke orang tua di desa.

Hari demi hari saya lalui bahkan biaya kuliah dan hidup saya sudah tidak lagi meminta orang tua, bahkan disaat kulakan ke Jogja saya bisa mampir untuk silaturrohim dan bisa memberi uang ke mereka. Meskipun yang saya berikan belum begitu banyak tapi orang tua sangat senang.

Setelah jualan kaos berjalan kurang lebih 3 bulan tetangga kos juga menawari saya untuk membantu menjaga stand pakaian di suatu pasar tradisional mulai jam 05:30 sampai menjelang sholat dhuhur. Tawaran tersebut saya terima. Jadi kalau pagi setelah sholat subuh ke pasar, kuliah malam hari sambil membawa dagangan kaos.

Alhamdulillah rejeki bertambah makan pagi ditanggung abang, makan siang di kos, tiap bulan dapat tambahan pemasukan meskipun diawal jaga stand diberi Rp. 25.000,- waktu itu. Bukan uang bulanan yang saya ambil tapi saya mendapatkan banyak ilmu tentang berdagang pakaian.

Ilmu yang saya dapatkan waktu jaga stand pakaian diantaranya : mengetahui cara menawarkan dagangan ke calon pembeli (belajar salesman), belajar hanya melihat postur tubuh konsumen bisa mengetahui ukuran pakaian, belajar mengenal karakter konsumen (konsumen paling suka baju model terbaru, warna yang disukai konsumen apa saja).
Selain itu juga belajar mengetahui distributor yang paling oke untuk beli pakaian grosir, harus hafal sisa stok pakaian, juga menghafal kode harga tiap jenis pakaian yang dijual. Belajar semua itu ndak instan.

Saya belajar melayani konsumen saja butuh waktu 6 bulan baru bisa closing. Diawal-awal setiap konsumen datang ke stand, saya samperin malah menjauh.

Kalau tanya malah ke abang bukan ke saya. Ternyata kuncinya setiap konsumen datang ajak saja bicara seolah-olah sudah kenal lama. Jangan sampai langsung menanyakan mau beli pakaian yang mana?
Saya menjaga stand pakaian kurang lebih 2,5 tahunan.

Tak terasa perkuliahan saya memasuki semester akhir dan honor sampai akhir jaga stand pakaian sebesar Rp. 50.000,-. Saya bersyukur banget mendapatkan ilmu dan pengalaman yang luar biasa. Setelah tidak lagi menjaga stand pakaian akhirnya saya pindah kos.

Ditempat kos baru saya mencoba mencari tambahan penghasilan lagi di agen koran.

Di agen koran saya sebagai karyawan serabutan. Datang ke agen harus jam 03:00 WIB pagi, sesampai di agen menunggu droping koran dari tempat cetak, setelah koran datang membagi koran sesuai wilayah loper.

Setelah itu mengambil jatah koran yang harus saya kirim keloper-loper yang menjadi tanggung jawab saya. Diupayakan sebelum subuh koran sudah sampai di loper-loper untuk dikirimkan ke pelanggan. Setelah ngedrop koran nunggu sampai jam 06:00 wib istirahat dimasjid.

Pekerjaan selanjutnya jam 06:00 sampai jam 08:00 WIB menjadi juru tagih ke pelanggang koran. Jika dikisaran jam tersebut ada telepon dari kantor agen bahwa ada pelanggan yang belum menerima koran saya bagiannya juga yang mengirimkan pengaduan tersebut. Sering terjadi posisi saya ada di dekat juanda sedangkan pengaduannya di daerah kenjeran.

Setelah dipastikan tak ada pengaduan saya istirahat sampai menjelang jam 12. Setelah itu pekerjaan selanjutnya adalah mengirim koran siang yang jumlahnya tidak banyak kisaran 50 an pelanggan tetapi lokasinya yang mencar-mencar, biasanya jika datangnya koran tepat waktu jam 14:00 WIB bisa selesai terkirim ke pelanggan.

Alhamdulillah saya bisa menabung sebesar Rp. 1.000.000,- kemudian saya keluar dari loper koran dan akhirnya saya memilih untuk kursus Teknisi Komputer. Dan sambil menyelesaikan materi kuliah yang belum terambil dan mengerjakan tugas akhir.

Setelah selesai kursus computer, saya pindah kos sambil menawarkan jasa service dan merakit PC ke kenalan-kenalan dan teman-teman kampus. Dengan jasa tersebut ternyata kurang bisa mendapatkan uang rutin tiap bulan, maka saya mencoba untuk mencari penghasilan dan bisa mengerjakan tugas akhir saya.

Alhamdulillah saya dapat tawaran waktu itu untuk menjaga kios koran dan wartel. Kenapa kok saya ambil karena waktunya ndak banyak. Mulai jam 05:30 sampai jam 12:00. Sehingga saya masih bisa untuk mengerjakan tugas akhir.

Hingga akhirnya tugas akhir saya selesai dan diuji. Alhamdulillah saya telah menyelesaikan kuliah saya. Sambil menunggu wisuda dan ijazahkeluar kurang lebih 4 bulanan. Merasa waktu saya banyak yang kosong hanya menjaga kios koran dan wartel saja. Akhirnya saya mencari aktivitas lagi.

Ndak lama teman kos menawari saya untuk merakit komponen Elektronika, seperti power amplifier, tone control, mixer, aqualizer dll. Untuk PCB, komponen resistor, pasitor, IC, timah dll dikasih oleh pabrik. Waktu itu setiap 100 PCB dikasih imbalan bisa mencapai Rp. 60.000,- hingga Rp. 100.000,-. Satu bendel berisi 100 PCB plus komponennya saya selesaikan 3-4 hari.

Untuk pengerjaannya saya bawa ke kios koran. Jika tidak ada yang beli saya gunakan untuk merakit kompenen terbut, kadang juga dapat bantuan dari bapak-bapak tukang becak yang mangkal didekat kios. Jika sudah selesai dapat imbalan bisaanya bapak-bapak saya belikan camilan untuk dimakan bareng-bareng.

Dari hasil jaga kios dan merakit komponen elektronika alhamdulillah saya bisa membeli sepeda motor dengan harga waktu itu Rp. 7.000.000,-. Meskipun sepeda motor bekas, alhamdulillah sepeda motor pertama kalinya dikeluarga saya.

Suatu ketika ada teman yang mampir ke kios koran menawari saya untuk ikut kerja. Dia bilang ke saya waktu kamu kan masih longgar kuliah sudah selesai ayo ikut aku motong ayam.

Saya belum berani langsung iyakan tawaran tersebut. Satu minggu kemudian saya sampaikan ke pemilik kios saya minta pindah jam untuk jaga kiosnya.

Alhamdulillah diperbolehkan untuk tukar jam jaga. Awalnya saya pagi, akhirnya saya ambil yang siang sampai malam. Setelah itu saya ambil tawaran teman saya untuk menjadi tenaga potong ayam. Untuk jam kerjanya potong ayam mulai jam 24:00 hingga habis subuh.

Sehingga sehabis jaga kios saya langsung meluncur ke tempat pemotongan ayam yang berlokasi dibelakangnya kampus UIN Sunan Ampel Surabaya. Semalam kurang lebih ayam yang dipotong oleh teman dan saya kurang lebih 4 kwintal, 1 kwintalnya 75-86 ekor ayam.

Luar bisaa pengalaman memotong ayam tersebut. Yang menjadi kendala disaat memotong ayam adalah suhu air untuk merendam ayam harus stabil dikisaran 600.

Jika kurang untuk membersihkan bulu-bulunya ayam akan sulit dan jika suhunya lebih panas akan merusak kulit ayam sehingga sulit juga untuk membersihkan bulu-bulunya.

Untuk mengerjakan membersihkan bulu-bulu ayam sampai bersih dan mengeluarkan usus, rempolo ati atau organ didalam tubuh ayampun tidak sembarangan ada Teknik khusus agar tidak merusak kulit ayam. Resikonya jika ayam-ayam banyak yang rusak siap-siap diomeli sama juragan ayamnya.

Yang luar biasa jika malam minggu jumlah yang dipotong bisa mencapai 6 kwintal.

Sekitar jam 1 pagi ada beberapa pemuda mabuk minta ayam dengan cara memaksa. Bisa dipastikan tiap malam minggu pasti pemuda-pemuda itu meminta ayam. Kadang ada perasaan takut jika sudah memasuki jam-jam 1 pagi. Mereka dengan kasar menggedor-gedor pintu pagar.

Rata-rata dikandang untuk yang motong ayam 3 orang. Baru mulai ramai para juragan penjual ayam sekitar jam 3 pagi datang untuk memastikan ayamnya sudah hampir selesai dan dipersiapkan dipotongi sesuai dengan pesanan pelanggannya.

2. KEINGINAN KUAT BISA KOMPUTER

kisah inspiratif
Saya seorang pemuda desa dari lereng gunung lawu, berkeinginan kuat untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Awal mula maunya masuk di PTN ambil jurusan Teknik Elektro dan Teknik perkapalan akhirnya kandas.

Ya sudahlah ambil PTS tapi tetap ambil jurusan Teknik Elektro. Di semester awal ada praktikum Komputer Bahasa pemrograman.

Karena tidak bisa mengoperasikan Komputer maka saya memilih duduk disamping teman yang bisa. Pokoknya jika ada tugas ngikut saja sama teman tadi.

Pada tahun 2000 kebetulan saya aktif di unit kegiatan mahasiswa.

Saya sering dikirim untuk mengikuti kepanitian yang diselenggaran antar UKM. Pada suatu ketika saya pingin banget untuk bisa mengoperasikan Komputer.

Di ruang secretariat Bersama UKM ada 1 unit Komputer yang sering digukan oleh para panitia untuk menyelesaikan tugas kepanitiaan.

Awalnya saya hanya memperhatikan seorang panitia yang sedang mengoperasikan Komputer, saya hanya berdiri disampingnya sambil memperhatikan apa yang dilakukan.

Suatu ketika saya melihat Komputer diruang sekber ndak ada yang menggunakannya lalu saya memberanikan diri untuk mencobanya. Sambil mengingat-ingat apa yang dilakukan teman panitia lakukan mulai mengidupkan komputernya.

Mulailah Komputer nyala saya mencoba mengeklik-ngekli di desktop. Pokoknya saya klik gambar kecil yang ada ditampilan.

Suatu ketika karena saking banyaknya yang saya klik akhirnya Komputer macet atau hang. Karena Komputer macet akhirnya saya tinggalkan begitu saja seolah-olah ndak terjadi apa-apa.

Lain waktu saya kembali ke sekber ternyata Komputer sudah kembali normal bisa digunakan. Karena masih digunakan teman, saya lebih memilih berdiri disampingnya untuk memperhatikan apa yang dilakukan teman saya tadi.

Setelah tidak ada yang menggunakan saya kembali mencoba menggunakan Komputer tersebut kembali hal sama saya lakukan yaitu setelah Komputer nyala saya ngeklak-ngeklik sembarang hingga hang lagi.

Karena ndak bisa memperbaiki akhirnya kembali seribu langkah keluar dari sekber.

Karena keinginan untuk bisa sangat kuat dan tugas kuliah membuat makalah semakin banyak pada tahun 2001 saya punya sedikit tabungan dan minta tambahan uang dari orang tua, alhamdulillah bisa merakitkan Komputer bekas Pentium III ke kakak kelas yang sudah saya kenal.

Komputer bekas yang saya rakitkan alhamdulillah sudah jadi dan diantarkan ke tempat kos saya. Dengan modal nekat dan pengalaman mengoperasikan Komputer di sekber kampus, saya mulai belajar Komputer dan mengerjakan tugas kuliah.

Karena tugasnya lebih banyak buat makalah maka saya lebih banyak menggunakan aplikasi Ms Word.
Masalah kembali terjadi, Komputer baru seminggu saya pakai tampilan dilayar monitor berwarna biru alias blue screen.

Dengan begitu saya langsung telpon teman yang merakit Komputer tsb. Alhamdulillah ada jawaban, mohon ditunggu seminggu lagi baru bisa ngecek ke kos-kosan saya.

Setelah satu minggu berlalu kok ndak kunjung datang saya coba telpon kembali, sama jawabannya tunggu seminggu lagi, hingga satu bulan berikutnya Komputer saya tidak bisa digunakan. Dan teman saya hanya janji-janji terus untuk datang ke kos-kosan membetulkan Komputer saya.

Karena tak kunjung datang akhirnya saya lepasi semua kabel yang menancap di Komputer. Terbih dahulu saya gambar agar nantinya bisa mengembalikan kabel-kabel tersebut terpasang kembali di Komputer.

Setelah kabel dilepasi semua, kemudian Komputer PC-nya saya bawa ke rumah teman saya tadi. Sesampai dirumahnya sama teman saya dicek, ndak sampai satu jam Komputer saya kembali normal. Kemudian saya bawa pulang dan saya pasang kembali saya gunakan.

Dengan kejadian tersebut akhirnya saya punya niat, jika terus menerus terjadi masalah pada Komputer saya, kapan saya bisa lancar mengoperasikan Komputer dan menyelesaikan tugas-tugas kuliah saya. Dengan niatan tersebut akhirnya saya ambil kusus teknisi Komputer selama 3 bulan dengan modal 1 juta.

Disela-sela kuliah saya akhirnya bisa kursus Komputer sebagai teknisi Komputer. Dengan pengalaman kursus terbut akhirnya saya bisa memperbaiki komputer saya sendiri dan Komputer orang lain.

3. SKILL DIPEROLEH HANYA KURSUS 3 BULAN

kisah inspiratif
Sebelum saya kuliah punya gambaran bahwa kuliah Teknik Elektro banyak prakteknya seperti disaat saya masih sekolah STM dahulu. Ternyata apa yang saya alami diperkuliahan, ternyata lebih banyak teori dari pada prakteknya. Karena saya orangnya bertipe kinestetik yang metode belajarnya harus langsung praktek.

Merasa apa yang didapatkan selama mengikuti perkuliahan tidak banyak saya kuasai dan pahami. Terlebih saya kurang suka dengan teori, pada akhirnya yang dirasakan saya kuliah selama ini dan mau lulus kok sangat minim sekali skill kemampuan yang saya kuasai.

Dengan rasa kurang percaya diri saya selaku mahasiswa pada waktu itu merasakan bahwa saya belum memiliki keahlian yang saya bayangkan sebelum masuk kuliah. Saya dulu membayangkan jika nanti saya kuliah di Teknik Elektro pasti bisa merancang, membuat dan atau memperbaiki peralatan Elektronik.

Pada kenyataannya saya sama sekali tidak punya keahlian seperti yang saya harapkan. Pada akhirnya seperti yang saya uraikan di sub “KEINGINAN KUAT BISA KOMPUTER”. Saya menabung dari hasil kerja sampingan disela-sela perkuliahan. Sambil mengumpulkan uang saya juga mencari tempat kursus teknisi Komputer di iklan media cetak.

Setelah uang terkumpul dan sudah menemukan tempat kursus yang sesuai dengan tabungan saya yang berjumlah waktu itu Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah). Akhirnya saya datangi saya tanya-tanya tentang program kursusnya, alhamdulillah saya mengambil kursus teknisi Komputer plus disela-sela waktu senggang sekalian magang.

Akhirnya saya bisa belajar tentang Komputer dan cara memperbaikinya selama 3 bulan yang seminggunya hanya 3 hari dan perharinya hanya 2 jam. Selama mengiktui kursus tersebut alhamdulillah saya sangat cepat memahami dan menguasai materi-materi perbaikan Komputer.

Setelah saya menyelesaikan kuliah saya mulai memasukkan surat lamaran pekerjaan yang di dapatkan dari iklan-iklan baris Jawa Pos. Dengan berbekal ijazah S1 satu persatu lowongan pekerjaan saya masukkan surat lamaran pekerjaan. Tak terasa puluhan surat lamaran yang sudah saya taruh.

Hampir semua bentuk lowongan pekerjaan saya masukkan surat lamaran saya. Saya tunggu saminggu, dua minggu hingga sebulan lebih tak satu pun ada yang dipanggil. Hampir putus asa, ternyata setelah lulus kuliahpun mencari pekerjaan masih sulit. Apa lagi yang tidak memiliki skill ketrampilan.

Didalam keputus asaan alhamdulillah ada 1 perusahaan yang memanggil saya. Ternyata perusahaan yang memanggil saya itu untuk bagian detailer. Beberapa tahapan tes sudah saya lalui dan tinggal tes terakhir tes wawancara. Saya senang sekali karena tinggal satu tahap lagi bisa dipastikan saya lolos.

Di tahapan tes wawancara semua pertanyaan bisa saya jawab. Akhirnya di pertanyaan terakhir sebagai penentu saya lolos tidaknya kata si pewawancara. Pertanyaannya tidak ada kaitannya dengan apa yang saya pikirkan waktu itu. Yaitu hanya ditanya sepeda motor kamu STNK-nya apakah sudah atas nama sendiri?

Saya sempat bingung kok pertanyaannya diluar dugaan saya. Apa hubungannya pekerjaannya nanti sebagai detailer dengan STNK atas nama sendiri? Sambil saya tunjukkan STNK-nya juga langsung saya jawab masih atas nama orang lain. Saya masih terheran-heran hubungannya STNK sama pekerjaan detailer.
Setelah saya jawab akhirnya pewawancara memberitahukan alasannya kenapa kok STNK-nya harus atas nama sendiri, agar nanti disaat diterima dan ditempatkan didaerah-daerah tidak lagi direpotkan masalah pengurusan pajak tahunan sepeda motor. Hanya karena STNK bukan atas nama sendiri gagal sudah bisa bekerja.
Surat lamaran pekerjaan yang sesuai dengan jurusan saya, sama sekali tidak ada yang memanggil. Suatu ketika saya ikutkan sertifikat kursus teknisi Komputer dalam surat lamaran saya, kebetulan ada lowongan pekerjaan yang membutuhkan tenaga pengajar lulusan S1 bisa mengajar Komputer.
Alhamdulillah gayung bersambut saya dipanggil langsung tes dan diterima untuk menjadi instruktur di Lembaga kursus. Meskipun saya belum memiliki pengalaman mengajar, dalam benak saya yang penting saya diterima kerja terlabih dahulu.

Hanya ditempuh 3 bulan skill keahlian yang saya dapatkan bisa mengalahkan selembar ijazah sarjana yang membutuhkan waktu bertahun-tahun menyelesaikannya untuk mendapatkan pekerjaan. Belum menjamin seorang lulusan sarjana bisa diterima kerja sesuai dengan bidangnya.

Dengan bekal ketrampilan teknisi Komputer yang saya dapatkan di Lembaga kursus dan didukung selembar ijazah S1, bisa untuk menghidupi keluarga. Apa jadinya jika saya hanya mengandalkan ijazah sarjana saja tanpa menambah skill ketrampilan teknisi Komputer mungkin tidak seperti sekarang. Bisa jadi balik ke desa menjadi buruh tani.

4. THE POWER OF KEPEPET

kisah inspiratif
Setelah diwisuda melamar kesana kemari tak kunjung dapat pekerjaan yang sesuai dengan harapan. Dengan berbekal ijazah sarjana dan skill keahlian teknisi computer akhirnya saya diterima di suatu Lembaga kursus Politeknik Komputer Bina Profesi Indonesia. Dilembaga kursus tersebut saya diawal ditanyai bisa apa saja tentang computer.

Karena belum punya pengalaman mengajar selama 1 minggu saya diminta untuk mendampingi pengajar lama supaya mengetahui caranya mengajar. Pertama kali mengajar materinya tentang mengenal internet. Saya sendiri saja tidak pernah internetan. Dengan percaya dirinya saya beranikan diri untuk dilepas mengajar tentang membuat email watu itu.

Dengan bercucuran keringat banyak sekali peserta didik dikelas saya yang gagal bisa buat email ada juga yang bisa. Akhirnya peserta didik yang berhasil saya suruh membantu temannya yang masih gagal membuat emai. Lama kelamaan alhamdulillah materi internet saya kuasai.

Suatu ketika saya dikasih kelas dengan jumlah 12 orang yang rata-rata dari sekolah SMA negeri. Didua pertemuan awal masuk semua. Baru menginjak pertemuan ke 3 dan seterusnya yang hadir tinggal 2 orang. Sungguh diluar dugaan saya.

Akhirnya saya dipanggil atasan, selain itu saya juga dipanggil pimpinan kursus saya dimarahi luar biasa sampai muncul kata-kata ekspresi wajah kamu muram seperti kertas diremas-remas. setelah kejadian itu akhirnya dari pihak manajemen kursus mengadakan pelatihan Teknik mengajar.

Di pelatihan tersebut setiap instruktur diminta untuk mencoba cara mengajarnya dan kemudian dikomentari kekurangannya dalam cara mengajar. Dari pelatihan itu akhirnya saya terapkan dan inovasi gaya mengajar saya. Dan Alhamdulillah kelas-kelas saya lebih nyaman saya yang mengajar.

Dilembaga kursus tersebut memang setiap instruktur memiliki target selama sebulan harus menguasai 3 modul buku materi ajar. Seuatu ketika ada informasi bahwa ada instruktur yang berhalangan hadir. Kebetulan waktu itu saya ndak ada jam ngajar dijamnya intruktus yang ndak bisa hadir.

Dipanggillah saya sama atasan. Atasan menyampaikan pk ini ada kelas kosong masih ada waktu 1 jam lagi materinya ini. Di Lembaga kursus tersebut memang tiap perintah untuk menggantikan ngajar tidak boleh ditolak dengan dalih apapun.

Saya jawab siap pak, meskipun materi yang diajarkan belum pernah saya pelajari dan kuasai. Hanya ada waktu 1 jam materi saya pelajari dan menyiapkan bahan ajar untuk dipraktekkan. Pakai metode The Power Of Kepepet akhirnya saya jalani. Alhamdulillah proses ini saya bisa lampaui. Sungguh luar biasa pengalaman ini.

Dengan pengalaman ini akhirnya saya juga diberi seorang peserta didik yang super dingin. Informasi yang saya dapatkan katanya waktu itu sudah 4 pengajar yang ndak bisa menakhlukan alias dicuekin setiap masuk kelas dia. Dia memang mengambil kursus privat yang harus dilayani tersendiri.

Pertama kali saya masuk ketemu si anak ini. Saya dipandang saja tidak, dia asik mengoperikan komputernya. Kalau ditanya mau jawab sepatah dua patah kata saja yang terucap itupun tidak mengarahkan pandangannya ke saya. Saya pun jadi bingung kok ada ya anak seperti ini sifatnya.

Saya mencoba bersabar menyampaikan materi-meteri yang harus dia pelajari. Tapi tetap saja di cuek dan asik dengan komputernya. Pertemuan pertama saya lalui dengan penuh pertanyaan. Bagaimana ya saya bisa diperhatikan sama anak ini. Dan pembelajaran bisa berjalan dengan enak dan lancar.

Sebelum berakhirnya jam pertama selesai saya perhatikan apasih yang dia lakukan dengan komputernya. Karena materi waktu itu desain animasi anak ini bikin sesuatu animasi. Dari pengamatan ini akhirnya dipertemuan kedua saya persiapkan contoh animasi yang menarik.

Alhasil waktu saya tunjukkan animasi yang telah saya persiapkan, anak ini mulai merespon apa yang saya tunjukkan. Dari situlah akhirnya anak ini bertanya kesaya bagamana cara membuatnya, akhirnya anak ini bisa terbuka dengan saya. Hingga materi-materi tuntas anak ini hanya sama saya maunya.

Sukses seseorang itu tidak instan, melainkan membutuhkan proses yang begitu Panjang dan berliku-liku. Belum tentu apa yang selama ini dipelajari dibangku sekolah maupun kuliah dalam mendapatkan pekerjaan atau rejeki selaras (sama). Melainkan peluang yang ada harus kita tangkap dan seiring sejalan sambil kita terus belajar.

Tinggalkan komentar