Sepenggal Cerita Mereka Farah Arita Prodi Desain Grafis MEC

Kata Mereka – Kehidupan tidak akan meninggalkan yang namanya cerita, entah itu cerita sukses, cerita menyedihkan atau cerita lainya. Kali ini di Episode Kata Mereka Admin mengulik cerita dari Peserta didik Mandiri Entrepreneur Center sebelum dan setelah masuk di MEC.

Apasih kata mereka tentang Mandiri Entrepreneur Center ? kita lihat sedikit kisah dari peserta didik Prodi Desain Grafis.

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh…

Saya Farah Arita Anggraeni, seorang  perantau dari suatu desa yang cukup tertinggal dan terpencil di kota Malang. Hal utama yang membuat saya berkeinginan kuat untuk meninggalkan kampung halaman, yaitu berharap bisa mengupayakan kehidupan yang lebih baik di kota, dimana kota pertama yang menjadi tempat kaki saya berpijak dan berjuang adalah kota yang terkenal karena sejarah pahlawan-pahlawannya yaitu kota Surabaya.

Bisa dikatakan saya adalah termasuk dari generasi millenial atau generasi Z, karena jika dimasukkan dalam kategori, memang saya lahir pada era 20-an. Yaitu pada tanggal 17 Juli 2000 tepatnya.

Pertamakali saya datang di Surabaya, banyak sekali perbedaan yang saya rasakan. Ternyata kehidupan di kota sangat berbanding terbalik dengan kehidupan yang selama ini saya jalani di desa, apalagi ini adalah wilayah orang lain yang masih sangat baru dan asing bagi saya.

Kota Surabaya memperlihatkan kepada saya, bahwa ternyata didalamnya terdapat kehidupan yang sangat keras, lalu lintas yang padat dan macet setiap harinya, udara yang panas dan masih banyak yang lainnya.

Namun itu semua tidak akan menyurutkan semangat saya, apalagi membuat saya menyesal dengan keputusan yang telah saya ambil.

Saya tidak menyangka akan mendapatkan pengalaman dan pendidikan yang lebih panjang di Surabaya, karena memang awalnya saya hanya berniat untuk melanjutkan sekolah SMK saja di Surabaya.

Tetapi Allah memberikan saya kesempatan lebih lama untuk meng-explore dan survive di Ibu Kota Jawa Timur ini. Alhamdulillah…

Loh kok bisa ? setelah SMK memangnya rencana mau kuliah dimana ?

Waktu itu, setelah saya menjalani banyak ujian kelulusan disekolah seperti UNBK, UKK, UASBN dll. Saya terus mencari informasi dan mengambil kesempatan yang ada untuk mendaftar di PTN impian saya di Malang.

Bukan hanya saya, namun mayoritas dari teman-teman seangkatan juga melakukan hal yang sama.

Kami semua mendaftar dan mencoba mengikuti seleksi SNMPTN, SPAN-PTKIN, PMDK-PN dan SBMPTN lewat jalur online yang disediakan oleh Dinas Pendidikan dan RISTEKDIKTI.

Alhasil, karena hanya berambisi dan mungkin kurang kuat dalam berusaha, rata-rata dan hampir semua pendaftar dari SMK saya tidak lolos seleksi SNMPTN. Dan sepertinya, hanya ada 1 dari semua teman-teman saya yang berhasil lolos ke Fakultas Teknik di salah satu PTN di Jawa Timur.

Setelah melihat hasil yang tertera bahwa saya tidak lolos masuk PTN pilihan saya, ada sedikit rasa kecewa dalam hati. Karena memang PTN yang saya pilih juga termasuk PTN yang cukup favorit di Malang, sehingga seleksinya bisa dikatakan lebih ketat karena membatasi jumlah pendaftar yang membludak.

Namun saya tidak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan, saya harus bangkit lagi untuk terus memperjuangkan mimpi dan cita-cita saya.

Saya sempat bingung harus melakukan apa setelah lulus dari SMK? Karena saya sudah merasa gagal dalam mendapatkan kesempatan untuk kuliah di PTN dengan jalur beasiswa.

Fikiran saya benar-benar terhambat oleh bayangan biaya kuliah yang sangat besar jika mendaftar lewat jalur mandiri.

Sementara meminta kepada orangtua pun tidak akan mungkin dan sangat memalukan bagi saya sendiri jika sampai terjadi. Sehingga terbesit dalam fikiran untuk langsung bekerja saja, lalu melanjutkan kuliah jika sudah ada tabungan nanti.

Tetapi  Allah berkata lain… Allah telah membuat skenario terbaik untuk saya dan menjadikan saya sebagai pemeran utama didalamnya.

Pertama kali Mengenal MEC

kata mereka sepenggal cerita farah arita DG

Waktu itu ada informasi dari alumni asrama tempat tinggal saya, ia menawarkan saya untuk bergabung di Mandiri Entrepreneur Center yang berada dibawah naungan Yayasan Yatim Mandiri.

Dimana semua biaya hidup, tempat tinggal dan pendidikan akan ditanggung penuh oleh pihak Yayasan selama 1 tahun.

Selang beberapa hari juga, Yatim Mandiri menawarkan program super camp ke asrama saya. Namun saya tidak bisa mengambil kesempatan itu karena posisi sedang mempersiapkan diri secara ketat untuk menghadapi UKK.

Awalnya saya tidak terlalu perduli dengan hal itu, karena memang saya sudah berambisi untuk kuliah di PTN saja.

Karena menurut saya, jika saya bisa kuliah di PTN apalagi PTN yang favorit adalah suatu hal yang membanggakan bagi orangtua dan keluarga, juga bisa memberikan peluang kerja yang bagus untuk saya.

Saya kembali mencari informasi tentang berbagai pekerjaan namun tidak ada yang mebuat saya merasa cocok, dan saya merasa kurang kalau saya hanya berhenti di SMK dan langsung bekerja. Saya merasa perlu menambah wawasan dan pengalaman yang lebih banyak untuk siap memasuki dunia kerja.

Mengambil Kesempatan Yang Ada

Alhamdulillah semua ujian telah selesai saya lalui, ada sedikit waktu untuk istirahat dan mencari peluang beasiswa yang masih bisa saya harapkan.

Saya berencana akan masuk kuliah tahun depan sambil menunggu uang tabungan terkumpul, karena meskipun yang saya dapatkan adalah beasiswa tentu akan ada biaya tambahan tak terduga.

Setelah menghabiskan waktu cukup lama, bahkan berhari-hari mencari peluang itu. Saya merasa begitu pesismis dan ingin menyerah.

Mengapa tidak ada satupun peluang yang bisa saya dapatkan? Apakah memang saya dengan keterbatasan yang saya punya tidak bisa memiliki mimpi dan nasib seperti orang lain yang bisa berkuliah di PTN dan kampus impian mereka?

Sempat saya benar-benar down dan hanya akan menjalani alur kehidupan  saya apa adanya. Saya menyerahkan semua keputusan kepada Allah, apapun jawabannya.

Seketika saya mengingat suatu hal, tentang seseorang yang menawarkan kesempatan untuk saya melanjutkan pendidikan dan mengasah kemampuan saya di MEC.

Iya, mengapa saya begitu gegabah menyimpulkan suatu hal, padahal Allah hanya ingin melihat seberapa keras usaha dan kemauan saya untuk menggapai apa yang saya inginkan ?

Tanpa berfikir panjang, saya segera menanyakan kembali apakah masih ada kesempatan untuk saya mendaftar disana? Alhamdulillah ternyata masih ada kesepatan bagi saya. Kebetulan itu adalah kesempatan terakhir dan bertempat di Surabaya.

Rasa syukur kembali saya panjatkan. Ternyata Allah ingin saya untuk berkumpul dengan orang-orang baik dan soleh kembali. Allah memilihkan jalan ini karena begitu sayangnya Allah kepada saya.

Saya langsung mendaftar lewat link website yang diberikan, ternyata cukup mudah persyaratan dan formulir yang harus saya isikan.

Dan semuanya telah saya isi sesuai petunjuk/perintah yang diberikan. Tahap selanjutnya adalah menunggu hasil pengumuman untuk tes tulis dan wawancara.

Akhirnya saya mendapatkan informasi untuk mengikuti tes tulis dan interview di Mandiri Entrepreneur  Center Surabaya pada tanggal 4 Mei 2019, bertepatan esok harinya adalah tanggal dimana jatuhnya puasa Ramadhan yang pertama.

Setelah mengikuti tes tulis dan interview, saya langsung kembali pulang ke asrama. Karena jarak yang cukup jauh dari asrama, saya menempuh perjalan kurang lebih 1 jam untuk sekali perjalanan saja, cukup melelahkan juga bagi saya.

Kurang lebih hari ke-3 setelah tes, saya mendapatkan notifikasi tentang pengumuman peserta seleksi yang lolos. Saya membuka kembali website kampus kemandirian, disana ada tabel pengumuman nama peserta yang lolos beserta pembagian daerah kampus sesuai prodi yang dipilih.

Masya Allah..! saya tidak menyangka nama saya ada disana, saya lolos seleksi dan masuk prodi desain grafis. Saya ditempatkan di kampus pusat, yaitu di Surabaya.

Setelah menerima kabar gembira itu, bersamaan dengan liburan kelulusan saya pulang ke desa dan menyiapkan dokumen-dokumen serta keperluan yang wajib dibawa ke MEC Surabaya.

Dibantu dengan ibu dan nenek saya menyiapkan segalanya. Saya pamit kepada keluarga untuk meneruskan pendidikan di Surabaya lagi dan insyaallah mungkin akan melanjutkan bekerja disana juga.

Sebenarnya bagaimanapun hati orangtua tidak akan rela ditinggalkan oleh anaknya, hatinya juga pasti masih berat untuk membiarkan anaknya bertahan hidup di perantauan sendirian. Apalagi saya sebagai anak perempuan yang identik dengan sifat lemahnya.

Namun kembali saya meyakinkan mereka untuk membiarkan saya memperjuangkan apa yang saya cita-citakan, tentunya untuk meraih itu bukankah saya harus keluar dari zona nyaman terlebih dahulu? Dengan penuh senyuman dan keyakinan saya menggenggam kuat-kuat kepercayaan yag telah mereka berikan. Dan saya bertekad kuat untuk berangkat ke Surabaya dan ketika pulang nanti harus membawa hasil.

Motivasi terkuat bagi saya adalah melihat senyum yang merekah diwajah mereka, dan kesedihan terhebat yang akan saya rasakan adalah ketika melihat mereka tersakiti. Maka sebisa mungkin saya harus mengusahakan agar senyuman mereka tetap merekah dan menghilangkan kesedihan yang menghampirinya. Semoga tersemogakan.

Pengalaman Pertama Masuk Di MEC

Kesan pertama masuk di MEC saya mengira disini hanyalah tempat tinggal seperti asrama biasa, namun ternyata lebih dari itu. Ternyata pendidikan agama, akhlak dan kedisiplinan yang diterapkan benar-benar patut dibanggakan.

Begitu pula dalam bidang akademik yang diberikan, fasilitas dan tim pengajar yang ada disini benar-benar tidak bisa diragukan.

Ada begitu banyak tenaga pengajar yang mumpuni di bidangnya masing-masing, sehingga kita sebagai peserta didik bisa menyerap ilmunya dengan begitu banyak.

Seperti yang pernah saya mimpikan dulu, saya sangat ingin belajar dengan orang-orang hebat, dengan orang-orang yang memiliki pengalaman luar biasa dan alhamdulillah Allah telah mewujudkannya disini.

Allah telah mengenalkan saya dengan MEC sebagai jembatan saya untuk mengenal banyak orang dengan ilmu dan karakter yang berbeda-beda. Menikmati cerita , ilmu dan pengalaman mereka secara gratis. Itu adalah hal yang benar-benar bisa membangkitkan semangat dan harapan saya kembali.

Banyak Hal Baru dan Ilmu Yang Didapat

kata mereka sepenggal cerita farah arita DG

Materi yang saya dapatkan di SMK dahulu sungguh tidak ada 30% pun dari apa yang saya dapatkan selama di MEC ini.

Bagaimana tidak? Disini saya diajarkan ilmu praktek secara langsung, serta cara hidup dalam bermasyarakat . Disini saya juga mendapatkan pengalaman bagaimana caranya berfikir serta bergerak menjadi seorang pemimpin dan aktifis.

Saya juga merasakan adanya perubahan bertahap pada diri saya, serta merasa mulai berkembang setiap harinya karena ilmu yang diasah dengan cara praktek secara langsung, dengan jam terbang yang cukup dan komputer pribadi yang diberikan khusus untuk prodi desain grafis.

Bukan hanya berbicara mengenai teori-teori yang tidak akan selesai dalam jangka waktu kuliah yang sangat singkat ini.

Sering juga saya merasa lebih bersyukur karena Allah tidak memberikan jawaban untuk saya masuk ke PTN terlebih dahulu.

Mungkin saja jika saya benar-benar kuliah di PTN, waktu 4 tahun akan saya habiskan hanya untuk mempelajari teori dan berakhir mendapatkan gelar saja.

Sementara persiapan ilmu bermasyarakat dan bekerja yang ingin saya dapatkan belum tersentuh sama sekali.

Dari sini juga saya bisa memikirkan apa yang menjadi tujuan dan rencana yang akan saya lakukan untuk menjemput kesuksesan saya lebih cepat.

Karena semua ilmunya telah diberikan, tinggal kita yang mau mencerna dan mengolahnya menjadi seperti apa. Itu adalah hak dan keputusan kita, kita sendirilah yang akan menentukan akhir dari cerita kita akan menjadi seperti apa?

Berbagi Cerita dan Bergabung Dengan Dunia Orang-Orang Hebat

“ Nanti harus ada banyak ilmu yang akan saya bagi serta pengalaman mengagumkan yang harus saya ceritakan kepada orang-orang… “

Mengapa saya memberikan statement seperti itu? Karena disini saya banyak termotivasi oleh orang-orang hebat yang berbagi pengalaman dan ilmunya yang begitu luas dan beragam.

Saya tidak berhenti terkagum karena aksi dan prestasi yang mereka dapatkan. Mereka pasti mengupayakan hal itu bukan dengan hal instan, tentu ada perjuangan yang dimulai dari usaha kecil namun istiqomah menjadi sebuah komitmen untuk terus bergerak maju.

Saya kembali mengingat salah 1 dari 100 mimpi yang pernah saya tulis di kertas, nanti saya ingin bekerja di perusahaan google. Why not? Nothing is impossible 🙂 mengapa kita memikirkan lebih dominan pada kemustahilan dan kegagalan ?, maka itulah yang akan terjadi sesuai dengan mindset kita.

Padahal kita bisa memikirkan i can do it, lebih dominanlah untuk memikirkan aku pasti bisa mewujudkannya! Meskipun hasilnya belum tentu seperti itu, setidak berfikir positif terlebih dahulu apa salahnya?

Nah, dari mindset seperti itu yang sering membuat saya sendiri merasa jatuh dan mustahil untuk bisa seperti itu. Maka, wajib bagi kita untuk percaya pada kemampuan dan potensi yang kita punya.

Jangan pernah ragu dalam setiap mimpi yang kita punya, karena jika kita yakin Allah pasti akan menunjukkan jalannya kemana kita harus melangkah.

Dari mimpi saya yang ingin bekerja di perusahaan google tersebut, Allah memberikan jalan kepada saya. “ Ini loh jalannya, kamu ikutin aja dulu… “  Rasanya Allah membisikkan kata itu kepada saya. Karena waktu itu saya tidak menduga, tiba-tiba informasi datang dari Bu Ita.

Beliau mengatakan akan ada ekskul baru bernama Gapura Digital , pesertanya terbatas dan akan dipilih sesuai kebijakan dari pihak manajemen.

Saya sempat mendengar, bukankah Gapura Digital adalah salah satu platform bisnis dari Google? Masyaallah ini kesempatan baik, salah satu jalan pertama untuk bergabung di perusahaan google.

Dan alhamdulillahnya, nama saya termasuk dalam peserta yang dipilih untuk bergabung dengan ekskul gapura digital. Suatu kebanggan bagi saya hari itu.

Beginilah jika kita benar-benar yakin dengan mimpi kita. Allah akan meberikan kunci dan jalannya dengan sangat mudah.

Disana saya belajar mengenal apa itu Google Bisnis? Apa kegunaannya? Cara kerjanya? Dsb. benar-benar ilmu yang saya dapatkan sangat bermanfaat dan ilmu yang sangat saya harapkan untuk menjadi pengusaha nanti.

Ditambah lagi ini adalah langkah awal bagi saya untuk bergabung di dunia perusahaan google melalui platform bisnis sesuai yang saya harapkan.

Saya berharap dengan adanya MEC ini, semua cita-cita dan mimpi anak-anak yatim diseluruh Indonesia bahkan dunia nanti tidak akan hanya menjadi angan dan terhenti karena keterbatasan mereka.

Semoga lembaga ini menjadi lembaga yang amanah dan terpercaya, selalu berkembang dan semakin jaya. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Tinggalkan komentar