Cara Agar Tetap Ikhlas dan Selalu Terjaga

Cara Agar Tetap Ikhlas – Hati adalah dunia abstrak, unik, dan berkembang. Hati gampang berubah, sukar dibaca, senantiasa berkembang, dan pasang-surut.

Karena memiliki sifat seperti itu, maka hati harus dijaga dengan baik agar tetap ikhlas karena Allah SWT. Sebab, jika tidak dijaga, hati akan berubah menjadi hati yang sakit.

Begitu banyak manusia yang memiliki pikiran cerdas, tetapi akhirnya menjadi orang hina hanya karena memiliki hati yang sakit.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi SAW bersabda, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan keikhlasan adalah inti dan ruh peribadatan. Menurut Ibnu Hazm, niat adalah rahasia peribadatan. Kedudukan niat terhadap amal sama dengan kedudukan ruh terhadap jasad.

Mustahil apabila peribadatan itu hanya berupa amalan yang tidak ada ruhnya sama sekali, seperti jasad yang teronggok. Ikhlas adalah dasar diterima atau ditolaknya suatu

amalan, dan juga kunci untuk menuju kemenangan atau kerugian yang abadi, jalan menuju surga atau neraka. Manakala keikhlasannya itu cacat, maka ia akan membawa pelakunya menuju neraka, tetapi manakala keikhlasan bisa terealisasikan maka ia akan membawa pelakunya menuju surga.

Meraih Kesempurnaan Ikhlas

Meraih Kesempurnaan Ikhlas

Para salaf mengakui, bahwa merealisasikan ikhlas dan memperbaiki niat adalah perkara yang sangat sulit.

Ini dikarenakan hati kita memiliki sifat suka berubah dan berbolak-balik, sehingga bisa jadi seseorang pada mulanya berniat ikhlas, namun di tengah jalan niatnya ternodai atau bahkan berubah.

Demikian pula sebaliknya ada yang mulanya salah dalam niat, namun akhirnya tahu akan kekeliruannya, lalu memperbaiki niat tersebut.

Maka mengetahui berbagai persoalan yang berkaitan dengan keikhlasan amat perlu bagi kita, sebagai salah satu upaya menjaga hati, agar senantiasa lurus tertuju kepada Allah.

Tidak goyah oleh segala gangguan dan godaan setan, maupun segala yang dicenderungi oleh hawa nafsu. Keikhlasan yang sempurna amatlah sulit digambarkan, kecuali oleh orang yang telah menyerahkan cintanya secara utuh kepada Allah dan mengutamakan akhirat.

Apalagi mengingat, bahwa manusia memiliki sifat banyak lupa dan mempunyai kecenderungan yang besar terhadap kehidupan duniawi, bahkan banyak pula yang terpedaya olehnya.

Biasanya keikhlasan akan sulit untuk menembus hati orang yang telah terpesona dan tergantung dengan kehidupan dunia, kecuali atas taufik dari Allah.

Seperti makan atau tidur misalnya, kita melakukan itu biasanya karena memang kita menginginkannya. Jarang terbetik di dalam pikiran kita ketika melakukan itu adalah agar badan kita kuat dan sehat, sehingga dapat melakukan ibadah kepada Allah dengan baik.

Demikian pula dalam melakukan berbagai amal yang lain, kita sering merasakan adanya berbagai bisikan dan gangguan yang menggerogoti kemurnian niat ikhlas kita kepada Allah.

Maka selayaknya masing-masing kita bersikap waspada, membentengi diri, memusatkan niat dan tujuan pada keikhlasan yang sempurna, jangan hiraukan godaan setan.

Dan ketika amal-amal saleh yang kita kerjakan terkena polusi, maka janganlah merasa lemah, sebab kotoran itu dapat dihilangkan, sehingga amal tersebut menjadi benar-benar jernih dan tidak hilang pahalanya.

Syarat Diterimanya Amalan

Ikhlas adalah salah satu diantara dua syarat diterimanya amalan. Sebab amalan yang diterima di sisi Allah adalah yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunanNya. Menurut Imam Ali radhiallahu ‘anhu, ada beberapa level ikhlas, antara lain;

  1. Ikhlasnya seseorang untuk meraih kebahagiaan duniawi. Ketika berdoa pun, ia berharap keinginan duniawi semata. Walaupun ini tingkatan terendah, namun lebih baik karena ia hanya meminta hanya kepada Allah saja.
  2. ikhlasnya seorang pedagang. Ia berusaha ikhlas namun dengan menghitung-hitung pahala terlebih dahulu. Jika suatu amal banyak mendatangkan pahala, pasti ia semangat mengerjakannya. Berharap amal tersebut dapat menghapuskan dosa serta menguntungkan duniawinya.
  3. Ikhlasnya seorang hamba sahaya. Ia takut sekali dengan ancaman Allah, sehingga ia berusaha ikhlas dalam berbuat, hanya demi Allah agar Allah tidak murka kepadanya.
  4. Ikhlasnya orang yang berharap surga, balasan baik bagi Allah, sehingga amal yang dikerjakannya betul-betul diperuntukkan sebagai bekal hidup diakhirat kelak, agar ia meraih surga.
  5. Ikhlas tingkat tertinggi, ia pasrah dengan ketentuan Allah. Baginya ia berbuat terbaik hanya demi keridhaan Allah. Ia hanya berkehendak dapat berjumpa Allah kelak, selain itu terserah Allah, ia tidak begitu peduli dengan balasan Allah.

Untuk menjadi seorang yang ikhlas pasti memerlukan latihan, berat memang pada awalnya, namun jika sungguh-sungguh berupaya, pasti akan berbuah keikhlasan yang tiada bandingnya dengan kehidupan dunia ini.

Cobalah mulai berusaha melupakan setiap amal yang kita lakukan, seakan-akan kita tidak pernah melakukannya. Dan jangan membeda-bedakan amal besar atau kecil, semua amal sama saja, upayakan berbuat terbaik dalam amal apapun juga.

Tinggalkan komentar